Pemberhentian

Aku mengusap pelan buku jariku dengan ibu jariku yang lembab. Mulutku terkatup, telingaku terbuka lebar. Sebuah lagu yang sangat kukenal mengalun tanpa henti di dalam kepalaku. Lagu dengan instrumen biola dan piano yang kental dengan vocal halus sang penyanyi tidak pernah gagal membuat sekujur tubuhku merinding, bahkan dalam ingatanku. Lagu itu pun selalu berhasil membuat bayanganmu—yang kupikir telah kulupakan sejak lama—terlihat semakin jelas dalam ingatanku. Tiap sudut wajah, gurat ekspresi, bahkan wangi tubuhmu semakin terasa nyata setiap lagu itu selesai dan terulang kembali. Seakan benar kau ada disini, disampingku saat ini.

Aku mengangkat kepalaku, menatap gradasi langit senja di horizon yang jauh seiring memori-memori tentangmu memasuki kepalaku. Aku tidak bisa menghentikan lagu itu dalam kepalaku. Bukan berarti aku membenci lagu itu—tidak, aku sangat menyukai lagu itu. Entah karena aku menyukai tempo lambatnya, atau karena aku sangat mengagumi sang penyayi, atau karena lagu itu merupakan pengingat sempurna atas eksistensi dirimu—aku tidak tahu pasti mana yang benar.

Lagu itu telah berhenti, memudarkan bayanganmu secara perlahan. Namun sedetik kemudian kepalaku berhasil memutarnya kembali tanpa kesulitan yang berarti, membuat ingatan tentangmu bersinar kembali seperti lilin kecil yang menyala setelah redup sejenak karena terpaan angin. Ingatan tentangmu berhamburan kembali. Dirimu yang selalu bercerita tentang mimpi dan ambisimu, dirimu yang selalu membuatku berpikir bahwa kaulah pemeran utama yang ada di hidup ini, dirimu yang tak pernah menggubrisku, dirimu yang hampir selalu menyulitkan posisiku, dirimu yang mampu mengobrak-abrik prinsip yang kuyakini dan pemikiranku hanya dalam waktu dua jam, dirimu yang merupakan jelmaan cahaya lilin yang kubawa di malam yang dingin—selalu muncul dan menghilang dari hadapanku dengan mudahnya, dengan seenaknya. Kau itu menyebalkan, sangat menyebalkan karena dengan semua sikap semena-menamu aku tetap membutuhkanmu. Karena hanya kau yang bisa mengendalikan pemikiran liarku. Karena hanya kau yang selalu bisa menjawab segala pertanyaan tak berujungku. Karena hanya kau yang mampu membuatku bungkam karena kekaguman atas hal kecil atau hal besar yang keluar dari otak jeniusmu. Kau dan aku sangat menyadari hal itu. Dan itu menyebalkan. Lihat, sekarang aku sudah tidak bisa berpaling lagi.

Lagu itu telah mencapai coda. Benar, aku tidak bisa berpaling darimu—bukan, aku tidak bisa berpaling dari kehampaan di hadapanku. Karena dirimu sudah tidak disini. Lilin yang kubawa telah terjatuh dan padam, membuatku berdiri di semesta yang gelap tanpa mengetahui apakah lilin itu bisa kembali ke tanganku.

Aku tidak berjalan dengan kebutaan, mataku sudah mulai terbiasa dengan gelapnya semesta ini. Aku memutuskan untuk tidak mencari lilinku yang telah terjatuh.

Lagu itu telah melewati coda. Ia telah berhenti, tidak terputar lagi. Bayanganmu benar-benar hilang bersama lilin yang jatuh.

Aku menghela nafas, menghirup keringnya kenyataan dan mulai beranjak dari persinggahanku sembari menatap pergantian warna senja oleh warna malam. Kuputuskan untuk pulang dengan setitik harapan kabur bahwa aku akan menemukanmu di perjalananku setelah ini.

Bukan apa-apa, lilin itu memang telah kurelakan dan aku sudah terbiasa melihat dalam gelap. Namun kebahagiaan yang muncul saat menemukan lilinmu yang hilang sehingga jalan yang kau tempuh menjadi semakin terang sulit untuk dipungkiri, bukan?

Amelia.

featured image taken from here. credit to the owner.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s