Hujan

Kuulurkan tanganku ke depan dengan telapak tangan terarah ke langit senja, merasakan terpaan hujan deras di tanganku. Kutarik kembali tangan basahku, membuang sisa air yang terkumpul di telapak tanganku.

Dalam hati aku bertanya-tanya, kapan hujan deras ini berhenti. Aku sudah tidak sabar untuk memindahkan tas berat yang mulai membuat punggungku pegal ini ke kamarku. Ingin rasanya melepas tas ini dan meletakkannya di sebelah kakiku. Tapi aku tidak bisa. Permukaannya basah, nanti tasnya jadi basah. Disinipun tidak ada tempat yang layak untuk diduduki, mana ada tempat duduk di parkiran sepeda. Perutku semakin memperparah keadaan karena mulai berbunyi, yang mengingatkanku kalau makanan terakhir yang masuk ke perutku adalah sarapan tadi pagi. Kesal dengan keadaan ini, aku menghentak-hentakkan kakiku, separuh berharap pegalku dapat sedikit berkurang dan hujan segera berhenti.

Aku menatap hujan yang turun ini dengan pandangan bermusuhan. Saat melakukannya sesosok orang berpayung tertangkap oleh mataku. Ia berjalan menuju ke tempat parkiran sepeda ini.

“Oh, Ryan?” panggilku saat sosok itu mulai terlihat jelas.

“Oh hai Raya,” jawab lelaki berseragam futsal itu sambil menarik gagang payung kecilnya, agar dapat muat di parkiran kecil ini.

“Baru mau pulang?” tanyaku berbasa basi.

“Mmhm, habis latihan futsal tadi,” jawabnya sambil mengacak-acak rambut basahnya, meninggalkan aroma shampo, keringat, dan air hujan. “Kamu sendiri? Belum pulang?”

“Aku lupa bawa payung..” jawabku sambil berharap dia mau berbagi payungnya denganku.

Dia tertawa mendengarnya. “Kasihan deh,”

Aku mencibir mendengarnya. “Pinjamin lah, sampai halte ujung jalan saja,”

“Enak saja, aku juga cuma bawa satu tahu. Selain itu aku naik sepeda, nanti kamu tetap basah juga kalau bareng aku,” jawabnya sambil merogoh-rogoh isi tasnya. Ia mengeluarkan roti dan energy drink dari dalam tasnya dan memberikannya padaku.

“Itu aja buatmu. Habiskan ya, siapa tahu setelah itu hujannya langsung reda,” ujarnya sambil berjalan ke belakangku untuk mengambil sepedanya.

“Serius nih? Wah makasih ya!” seruku tanpa menoleh. Aku sibuk membuka pembungkus roti dan melahapnya segera. Setidaknya ini bisa menenangkan perutku dan memberi energi lebih sehingga aku kuat berdiri selama beberapa lama lagi.

Tak lama kemudian ia sudah berada di sampingku dengan sepedanya.

“Kalau gitu sampai jumpa besok ya,” ujarnya sambil menaiki sepedanya dan melesat menuju terpaan hujan yang deras ini.

“Yaa, hati-hati,” ujarku setengah berteriak agar ia dapat mendengarnya. Ia melambaikan tangan sebagai balasannya.

Aku menatap punggung basahnya yang mulai menjauh sambil menegak minuman pemberiannya.

“Bodoh, punya payung kenapa tidak dipakai? Mendingan kan kupinjam saja tadi,” gerutuku.

Aku mengerjap setelah berkata begitu, menyadari sesuatu. Dengan segera, aku menoleh ke belakang dan mendapati payung Ryan sudah tergeletak tak jauh di belakangku. Aku menghampiri payung itu, diatasnya terdapat sticky notes kecil. Tanpa ragu kuambil payung itu beserta sticky notesnya yang sudah basah dan kubaca tulisan diatasnya yang agak pudar.

‘Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa dikembalikan.’

 

Amelia.

featured image taken from here. credit to the owner.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s