Review Novel Demian

Judul                : Demian : Kisah Masa Muda Emil Sinclair

Penulis             : Hermann Hesse

Penerjemah    : Deasy Serviana

Penerbit          : Mata Aksara

Cetakan           : Maret 2017

Tebal               : 326 halaman

IMG20170320132340

Novel Demian menceritakan tentang kisah Emil Sinclair, yang selama masa mudanya terikat dengan seseorang bernama Max Demian. Ikatan itu dimulai saat Demian berhasil menghentikan tindakan bullying yang dilakukan Franz Kromer terhadap Sinclair. Sejak saat itu, Sinclair dan Demian sering bertukar pikiran tentang hal-hal yang ada disekitar mereka. Walaupun sempat terpisah karena Sinclair masuk ke sebuah asrama laki-laki, ikatan yang Sinclair miliki bersama Demian merupakan ikatan paling kuat dalam membantu Sinclair mencapai kedewasaannya dan memahami jati dirinya sebagai seorang manusia. Selama perjalanan kehidupannya pun tak hanya Demian yang menjadi ‘pengantar’ Sinclair dalam memahami dirinya, tetapi juga Pistorius selaku pastor dan Knauer selaku teman sekelas Sinclair yang membantu pemikiran Sinclair menjadi lebih berkembang, Franz Kromer selaku pembully dan Alfons Beck selaku siswa asrama yang mengenalkan ketidakbaikan kepada Sinclair, serta Frau Eva dan Beatrice yang menjadi sosok ideal bagi Sinclair. Orang-orang tersebut, termasuk Demian, membantu Sinclair dalam menajamkan pemikirannya sehingga ia dapat menuju pada dirinya sendiri, dengan menerima kebaikan dan keburukan yang ada di dalam dirinya.

 

Melalui buku ini, saya merasa Hesse ingin menyampaikan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sisi kebaikan dan keburukan pada dirinya, dan untuk mencapai diri kita yang sesungguhnya sebagai seorang manusia kita harus dapat menerima kedua dunia itu—kebaikan dan keburukan—di dalam diri kita. Pada bagian awal cerita, Hesse menyebutkan bahwa Sinclair muda dapat melihat dua dunia itu di rumahnya dengan jelas, dan uniknya, batas antara dunia baik dan dunia jahat itu sangatlah berdekatan. Disini saya menangkap bahwa Sinclair telah menyadari secara samar bahwa di dalam diri manusia terdapat dua sisi yang berbeda.

 

Sinclair mulai terjatuh ke dalam salah satu dunia, yaitu dunia jahat saat bertemu dengan Kromer. Dia melakukan kebohongan, mencuri uang, dan melakukan berbagai keburukan lain atas perintah Kromer. Hal itu membuat Sinclair tertekan hingga dia sakit. Saat itu ia merasakan penolakan atas sisi dirinya yang tidak baik. Ia merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari dunia yang jahat dan hal itu tidaklah baik.

 

Setelah Demian berhasil membantu Sinclair dalam menghentikan tindakan pembullyan Kromer, Sinclair dapat kembali ke dalam dunia yang baik. Pada saat itu pula Sinclair menjaga jarak dari Demian akibat Demian yang menceritakan kisah Kain dan Habel dari sudut pandang yang berbeda—yang membuat Sinclair tidak nyaman—serta rumor-rumor yang bermunculan terkait Demian. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena Sinclair sudah merasa sangat terikat dengan Demian dan pemikirannya. Ia pun kembali dekat dengan Demian.

 

Tak lama setelah itu, Sinclair yang harus terpisah dengan Demian karena kepindahannya ke sebuah asrama lelaki seakan mengalami tarik ulur antara dunia baik dan dunia jahat. Akibat pengaruh Alfons Beck, Sinclair kembali terjun ke dunia jahat dengan menjadi seorang peminum dan perokok. Lalu ia kembali lagi pada dunia baik karena bertemu dengan Beatrice, yang ia anggap sebagai sosok ideal karena sosoknya yang menggambarkan penyatuan dua dunia yang ia dambakan. Hal itu berlanjut hingga Sinclair sadar bahwa apapun yang ia lakukan, ia akan selalu kembali pada Demian. Ia menggambarkan burung alap-alap Eurasia yang berasal dari mimpinya dan ia kirimkan pada Demian. Demian memberi balasan pada lukisan itu dengan beberapa kalimat, yaitu :

 

“Seekor burung sedang berjuang untuk dapat keluar dari telur. Telur adalah dunia. Siapapun yang berharap untuk dilahirkan kembali harus menghancurkan sebuah dunia. Burung tersebut sedang terbang kepada Tuhan. Tuhan tersebut bernama Abraxas.”
(halaman 161)

 

Dari sini tampak bahwa Demian seakan memberikan arti dari mimpi yang dialami Sinclair. Sinclair digambarkan sebagai seekor burung yang sedang menghancurkan dunia yang berisi hal-hal klise seperti peraturan dan regulasi untuk mencapai Abraxas, yang dapat diartikan sebagai suatu idealitas yang Sinclair dambakan yaitu penyatuan dua dunia. Melalui Abraxas pula, Sinclair menjadi dekat dengan Pistorius yang mengajarkan banyak hal kepada Sinclair dan menginterpretasikan mimpi-mimpi Sinclair sehingga memantapkan dirinya dalam menuju dirinya sendiri. Melalui Pistorius, Sinclair juga belajar bahwa dalam sebuah pertemuan dengan orang yang sangat berharga bagi kita, akan ada suatu titik dimana kita akan berpisah jalan dengan orang tersebut. Perpisahan itu pula akan menciptakan sebuah pertemuan baru, yaitu pertemuan kembali antara Sinclair dengan Demian dan Frau Eva—ibu Demian.

 

Dari membaca buku Demian ini, dapat saya simpulkan bahwa dalam perjalanan hidup menuju kedewasaan dan menemukan jati diri, kita diibaratkan harus menghancurkan dunia yang merupakan tempat aman dan penuh perlindungan agar kita bisa terbang menuju penerimaan diri sendiri atas kebaikan dan keburukan yang secara alamiah akan selalu bersisian diantara kita. Dan untuk menuju hal tersebut, akan ada banyak pertemuan, perpisahan, hal-hal menyenangkan maupun tidak menyenangkan, dan godaan-godaan untuk tetap tinggal dan tetap merasa aman di suatu sisi.

#GADemianPurpleLand

Advertisements

One thought on “Review Novel Demian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s